Kamis, 04 Agustus 2011

Persepsi dapat Menutup Kebenaran

Sebelum kita masuk ke pembahasan, sebaiknya kita baca artikel berikut ini:
Never Judge A Book by Its Cover

Cerita yang simpel tapi penuh makna. Cerita yang ada di buku 'Si Cacing & Kotoran Kesayangannya 2' yang berjudul 'Kerugian Harvard'.
Intinya: Berhati-hatilah pada penilaian dan persepsi Anda!

Artikel kali ini akan membahas mengenai hal tersebut. Kenapa dibahas? Karena inilah yang gw rasakan selama seminggu terakhir ini. hahaha. Artikel yang gw bikin semua berdasarkan dari apa yang gw alami, amati, dan memang menarik untuk dibahas.


Persepsi... Sebuah pemikiran yang belum pasti kebenarannya. Ada juga yang menyatakan bahwa persepsi adalah sebuah penafsiran.
Di sini gw mempunyai contoh, di sebuah kaca terlihat bayangan berbentuk lingkaran. Ada dua orang yang melihat dari kejauhan. Apakah mereka akan berpikiran yang sama mengenai objek itu? Yah, mungkin bisa saja sama. Tapi, lebih besar peluang untuk kedua orang tersebut memliki pemikiran yang berbeda tentang objek itu. Dengan objek yang sama, mereka memiliki penafsiran yang berbeda.
Jika kita mendekati objek tersebut, apakah penafsiran dari kedua orang tersebut akan selalu benar? Belum tentu. Dan bahayanya, jika kedua orang tersebut sudah melakukan penafsiran dari jauh, lalu mereka bersikeras pada persepsi mereka masing-masing, apakah mungkin terjadi perkelahian?
Lalu, bagaimana cara untuk memastikannya? Yah, mudah, dekatkanlah diri Anda pada objek tersebut. Buktikan secara langsung, apakah sebenarnya objek tersebut. Itu lebih bijaksana ketimbang Anda sudah yakin pada apa yang Anda asumsikan dari kejauhan.

Belakangan ini, banyak yang mengalami hal-hal tersebut. Berpikiran negatif pada suatu hal hanya karena omongan-omongan orang yang belum tentu kebenarannya. Mereka sudah takut duluan sebelum mencoba. Sama seperti orang yang memakai tato pada beberapa tahun yang lalu. Mereka dicap sebagai orang-orang kriminal. Tapi, apakah mereka semua yang bertato melakukan perbuatan kriminal? TIDAK.
Satu contoh lagi, bagaimana cara Anda dapat mengetahui apakah rasa kopi itu? Maniskah? Pahitkah? Asinkah? Tawarkah? Atau mungkin asam? Apa hanya dengan melihat kopi itu Anda akan langsung tahu seberapa pahit atau seberapa manis atau seberapa asin atau seberapa asam rasa kopi itu?

Ada sebuah asumsi lagi. Contohnya, Anda sudah membuktikan suatu hal yang memang hasilnya merugikan bagi Anda sehingga Anda kapok untuk tidak akan mengikuti hal tersebut lagi, di mana pun itu dan siapa pun itu. Padahal Anda dirugikan hanya karena satu orang dan hanya di tempat itu saja.
Contoh yang lebih familiar untuk anak muda seperti gw, hahaha. Gw suka sama seorang perempuan, tapi perempuan itu malah membuat gw menderita karena tingkah lakunya dan ucapannya yang kasar. Lalu, apakah gw harus menghakimi semua perempuan yang ada di muka bumi ini bahwa mereka akan membuat gw menderita dengan tingkah lakunya dan ucapan kasar? Yah, tidak. Ga semua perempuan di muka bumi seperti itu.

Jadi, jangan menilai sesuatu terlalu cepat dan tanpa bukti. Karena setiap persepsi yang kita munculkan itu belum tentu adalah sebuah kenyataan/kebenaran. Buktikan dahulu, baru bisa menilai karena sudah melihat kebenaran yang ada. Dan satu ungkapan yang bisa menjadi motto Anda agar tidak selalu fokus pada persepsi Anda:
GOOD? BAD? WHO KNOWS?

Ini hanya sebagai bahan sharing aja. Tidak ada maksud memojokkan pihak mana pun. Di sini gw hanya mencoba belajar dari pengalaman yang sudah gw rasakan.
Jadi, apapun yang terjadi, BE HAPPY! :)

-Sandi Yap-

0 komentar:

Posting Komentar


 
;